HUKRIM

Kamis, 07/02/2013, 17:22
Guru SD Cabul Siswa Divonis Lima Tahun Penjara

HUKRIM Cabul
 

guru-sd-cabul-siswa-divonis-lima-tahun-penjara Ist
BERITA TERKAIT
 
Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Kamis (7/2) memvonis pelaku pencabulan yang dilakukan oleh guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan hukuman lima tahun penjara.

Dewa Sutama (43), terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembuatan cabul terhadap sejumlah murid yang berusia 11-12 tahun, yang dilakukan pada September 2011 dan 2012.

Sidang dengan agenda pembacaan putusan perkara yang diketuai, Hj Hera Kartiningsih SH MH dibantu dua orang hakim anggota masing-masing Erry Iriawan SH, dan Nurul Hidayat SH MH juga dihadiri seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni I A K Yustika Dewi SH. Sementara terdakwa didampingi dua orang penasihat hukum.

Sutama terbukti melanggar pasar 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA), junto pasal 65 ayat 1 KUHP tentang perbuatan cabul.

Pasal 82 itu menerangkan, setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Dalam UUPA, batas usia dewasa adalah 18 tahun.

Dalam pasal itu, pelakunya dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat tiga tahun dan denda paling banyak Rp300 ratus juta dan paling sedikit Rp60 juta.

Namun, dengan berbagai pertimbangan majelis hakim menjatuhi vonis lima tahun penjara, dan denda sebesar Rp60 juta, subsidier empat bulan kurungan. Majelis hakim juga memerintahkan terpidana ditahan.

Putusan majelis hakim itu, lebih tinggi dari tuntutan JPU pada sidang sebelumnya, yakni empat tahun penjara.

"Saudara sudah mendengar putusannya, silahkan mengajukan banding jika keberatan, atau hendak pikir-pikir dalam tujuh hari ke depan," ujar Ketua Majelis Hakim Hera Kartingsih.

Suasana menjadi tegang ketika sidang berakhir, karena sejumlah pengunjung sidang terutama kaum wanita berteriak histeris mengutuk pelaku pencabulan itu.

Sementara itu, aparat kepolisian langsung bergerak cepat membentuk pagar betis melindungi terpidana dan tim penasehat hukumnya, dari kemungkinan amukan massa.

Diketahui, kasus pencabulan itu terjadi di lingkup sekolah dan sudah berlangsung lama, namun orangtua dan sanak keluarga korban baru mengadukan hal itu ke Polsek Mataram hingga dilimpahkan ke Polres Mataram, pada 11 September 2012.

Jumlah korban dilaporkan mencapai belasan orang, namun baru enam orang korban yang dilaporkan orangtua atau sanak keluarganya ke polisi, hingga masalah tersebut disidangkan di pengadilan. (abd/nki)

Belum Ada Komentar Buat Berita Ini

Kirim Komentar Anda


Komentar

Berita Terbaru

Kasus Arsyad, Media Sosial dan Pencitraan
Kasus Muhammad Arsyad bakal dijadikan moment bagi Jokowi untuk menaikkan citranya, menjelang kenaikan harga BBM.

Suryadharma Ali: Mari Rapatkan Barisan untuk Tujuan Bersama
Selamat muktamar dan menghasilkan hasil yang membanggakan untuk Indonesia ke depan

Masyarakat Inginkan Reshuffle Kabinet, Jika..
Penilaian positif atas kabinet Jokowi lebih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan publik atas pribadi dan perilaku Jokowi itu sendiri.

Teuku Riefky Harsya, Ketua Komisi X DPR RI
Keputusan tersebut diambil dalam rapat pemilihan dan penetapan pimpinan Komisi X yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

Madrid Bekuk Cornella 4-1
Real Madrid menang 4-1 atas UD Cornella pada pertandingan pertama Copa del Rey putaran keempat yang dimainkan pada Kamis (30/10/2014) WIB.